Source : Google
Selama berlibur ke Banyuwangi, gue mendapatkan banyak banget informasi dan pengalaman seru dari setiap tempat yang berhasil gue kunjungi. Mulai dari ancaman bahaya saat berkunjung ke Taman Nasional Baluran sampai indahnya Blue Fire yang hanya bisa dilihat setelah melalui jalur pendakian yang melelahkan.
Berkunjung ke Banyuwangi adalah salah satu harapan gue sejak lama, tapi baru bisa terwujud tahun ini. Dengan mengandalkan long weekend dari kampus, gue, Nada dan Diana memutuskan untuk memilih Banyuwangi sebagai tempat tujuan kita dalam menikmati keindahan alam Indonesia.
Setelah mengumpulkan banyak sekali informasi tentang rute perjalanan, biaya liburan, tempat wisata yang wajib di kunjungi sampai harga penginapan dan rental motor yang terjangkau oleh isi kantong, kita bertiga memutuskan untuk berangkat ke Banyuwangi pada tanggal 24 Februari 2020.
Source : Google
Namanya juga rencana, meski sudah di usahakan semaksimal mungkin pasti ada aja satu atau dua hal yang diluar keinginan. Salah satunnya Nada dan Diana yang terpaksa harus naik kereta berikutnya karena enggak sampai di stasiun tepat waktu. Hari itu jalanan memang luar biasa macet, ditambah Diana salah lihat jam keberangkatan yang harusnya jam 08.25 menjadi 09.25 alhasil keterlambatan tidak bisa dihindarkan. Hal tersebut mengakibatkan gue harus melalui perjalanan 11 jam sendiri menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi, sementara Nada dan Diana terpaksa harus beli tiket baru dengan harga yang lebih tinggi dari tiket sebelumnya.
Kita mungkin kesal dan marah untuk alasan tertentu, tapi nasi udah jadi bubur, anggap aja ini sebagai bentuk pelajaran agar kedepannya kita selalu rajin untuk mengingatkan satu sama lain tentang berbagai hal dan harus lebih teliti lagi dalam melihat jadwal keberangkatan agar terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Begitu sampai di Stasiun Surabaya Pasar Turi, gue memutuskan untuk keliling Surabaya menggunakan ojek online dan berakhir di Stasiun Surabaya Gubeng, tempat kita akan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi nantinya. Sekedar informasi, Stasiun Surabaya Gubeng ternyata ada dua guys, stasiun baru dan lama. Stasiunnya masih dalam satu lingkungan, hanya pintu masuknya saja yang terpisah lumayan jauh. Menurut penjaga, Stasiun Surabaya Gubeng lama tutup jam 9 malam, lewat dari itu kalian harus masuk melalui Stasiun Surabaya Gubeng baru.
Source : Google
Jadi untuk menghindari waktu terbuang sia-sia karena harus jalan memutari stasiun yang lumayan besar, alangkah baiknya kalian pastikan terlebih dahulu jam keberangkatannya untuk memudahkan kalian harus turun di pintu masuk mana. Informasi ini gue dapatkan karena gue sampai lebih dulu di Surabaya, dengan sigap gue langsung mengabari kedua teman gue supaya tidak mengikuti jejak yang sama. Syukurlah mereka berhasil sampai di Stasiun Surabaya Gubeng tanpa kendala sama sekali.
Source : Google
Jam 4:15 kami kembali melanjutkan perjalanan dari Stasiun Surabaya Gubeng menuju Stasiun Temuguruh. Selama perjalanan, kami berkali-kali mengecek maps untuk mengetahui posisi kereta yang kita tumpangi sudah sampai mana. Untunglah hal tersebut membawa dampak positif pada kita, karena dari maps tersebut kita jadi tau kalau kereta yang kita tumpangi akan melewati Stasiun Karangasem atau yang saat ini telah berganti nama menjadi Stasiun Banyuwangi Kota.
Kalian pasti heran melihat kita berhenti di Stasiun Banyuwangi Kota padahal dari awal memilih Stasiun Temuguruh sebagai tujuan akhir.
Jadi begini ceritanya, ssaat proses pemesanan tiket, kita udah berusaha untuk memilih Stasiun Karangasem sebagai tujuan akhir, tapi enggak bisa ditemukan satupun rute perjalanan menuju stasiun tersebut. Padahal Stasiun Karangasem adalah pemberhentian yang paling strategis menurut gue karena tepat di depan stasiunnya ada sebuah penginapan sekaligus rental motor/mobil yang nantinya akan kita sewa selama beberapa hari kedepan,
Berkat usulan Nada dan sumber informasi yang didapat dari petugas kebersihan kereta, kita memutuskan untuk berhenti di Stasiun Banyuwangi Kota alih-alih di Stasiun Temuguruh seperti rencana awal. Berkat keputusan mendadak tersebut, kita jadi terhindar dari pengeluaran berlebih.
Sesampainya di Stasiun Banyuwangi Kota, kita langsung bergegas menuju Subur Homestay yang posisinya berhadap-hadapan dengan stasiun untuk menyewa kamar dan motor selama beberapa hari ke depan. Harga kamar berpariasi menyesuaikan dengan ukuran dan fasilitas di dalamnya, mulai dari 75.000 - 250.000 per hari. Tapi gue saranin buat kalian yang mau dapet kamar berAC, wajib booking dari jauh-jauh hari karena cuma tersedia dua kamar aja.
Dan untuk harga sewa motor, dikenakan biaya 75.000 per hari. Kalau mobil gue lupa nanya, jadi gak tau pasti untuk harga sewa per harinya kena berapa duit. Dan enggak hanya nyewain penginapan dan kendaraan, disini juga menyediakan jasa tour guide dan paket wisata dengan harga terjangkau.
Informasi tambahan, pemilik penginapannya baik banget. Sangking baiknya gue sama temen-temen sampe ngerasa punya orang tua selama liburan di Banyuwangi. Orang-orang kayak begini yang selalu pengen gue rekomendasiin ke kalian, karena gue enggak mau sembarangan rekomendasiin sesuatu kalau diri sendiri aja enggak merasa cocok dan puas. Ditambah lagi beliau buka warung, meski gak terlalu besar tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan selama kita tinggal disana.
View saat pagi dari lantai 2 homestay
Subur Hometsay
Saat udah ngerasa nyaman karena dapet penginapan pas di depan stasiun, kita bertiga langsung tersadar kalau tiket pulangnya berangkat dari Stasiun Temuguruh. Mau enggak mau, hari terakhir kita harus pindah penginapan. Tapiiiiii... emang dasar kita tuh hoki, Ibu Dewi selaku pemilik penginapan mengusulkan kita buat ngajuin perubahan stasiun keberangkatan dari Stasiun Temuguruh menjadi Stasiun Banyuwangi Kota. Meski Ibu Dewi sendiri kurang yakin bisa atau enggaknya, kita memutuskan untuk mencoba terlebih dulu supaya tau jawabannya. Lagi-lagi keberuntungan berpihak sama kita, ternyata bisa guys ngerubah stasiun keberangkatan sesuai mau kita dengan dikenakan biaya sebesar 23.000 per tiket. Enggak pake nunggu lama kita langsung ngajuin perubahan ke petugas stasiunnya. Kita cuma perlu bayar biaya perubahan, isi data diri dan selesai deh. Gampang banget kan?
Lembar pengajuan untuk merubah nama stasiun keberangkatan
Tiket sementara
Selanjutkan gue bakal rekoemdasiin tempat makan enak dan murah yang setiap hari kita kunjungin selama liburan di Banyuwangi. Kalau kalian tinggal di Subur Homestay atau minimal di sekitar Stasiun Banyuwangi Kota, jangan lupa mampir ke Nasi Tempong Mbok Wah. Lokasinya gak jauh dari stasiun, cuma 4 menit berkendara pakai motor dan 16 menit jalan kaki. Kalian bisa manfaatin Google Maps atau Waze supaya enggak kesasar.
Source : Google
Nasi Tempong Mbok Wah buka dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Disana kalian bisa makan dengan banyak pilihan menu mulai dari ikan goreng, ayam, aneka pepes, paru, dadar telur sampai seafood tersedia disana. Enggak cuma banyaknya pilihan menu yang bikin gue merekomendaikan tempat ini, tapi cita rasa dan harganya yang terjangkau tentu menjadi salah satu pertimbangan. Berbeda sama Jogja atau Bali, enggak banyak tempat kuliner khas yang bisa kalian temuin disana. Saat cari makan, gue malah ngerasa kayak lagi di kampung sendiri karena jenis makanannya enggak jauh beda kayak yang biasa dijual di Tangerang. Terimakasih buat Bang Rudi yang udah merekomendasikan kita tempat makan enak dan murah tersebut. Jujur aja yah, saat nulis ini gue langsung pengen ke Banyuwangi lagi cuma buat makan di tempat Mbok Wah. Hhfftt!
Tapi gue suka deh liburan ke Jawa, selain banyak tempat wisata bagus, para pedagangnya juga enggak kayak di tempat-tempat lain yang suka ngasih hargga tinggi ke wisatawan.
Mau warga lokal atau wisatawan, harga makanannya tetap dibandrol sama. Gue taunya pas beli bakso keliling di depan stasiun terus enggak lama ada turis asing ikutan beli juga, saat mau bayar abangnya enggak ngelebihin harga seperak pun. Mungkin yang harganya di beda cuma di bagian biaya tiket masuk kawasan wisata sama harga paket liburan aja. Meski begitu, saat gue cek, bedanya gak jauh beda. Misal biaya open trip lokal 250.000 per orang, kalau untuk turis asing bisa kena 275.000 per orang.
Source : Google
Nah, setelah cukup membahas tentang rute perjalanan, perubahan nama stasiun, biaya penginapan dan rental sampai kuliner enak di Banyuwangi, pada kesempatan terakhir ini gue akan membahas kondisi jalanan menuju tempat wisata di Banyuwangi.
Berbeda dengan tempat-tempat wisata yang udah gue datangin sejauh ini, Banyuwangi ada di urutan nomer satu kalau membahas soal kondisi jalannya. Kalau saat liburan ke Jogja, Bali atau Lombok, gue masih nemuin beberapa ruas jalan yang rusak atau berlubang. Tapi kalau di Banyuwangi, dari hari pertama sampai hari terakhir gue disana, setiap jalan yang gue lewatin bener-bener super mulus sampe gue ngerasa bisa berkendara sambil tutup mata.
Eits, itu cuma perumpamaan aja, jangan ditiru oke!
Tentu aja mau sebagus apapun jalannya, berkendara harus tetap dengan mata terbuka demi keselamatan bersama. Pokoknya gue cinta banget sama aspalnya yang berwarna hitam dan super mulus itu. Gue curiga itu aspal setiap minggu melakukan treatment wkwk
Source : Google
Tapi seperti yang kita tau, selalu ada plus minus dalam segala hal. Dibalik jalanan Banyuwangi yang mulus, ada banyak banget pengendara yang bawa motor/mobil kayak orang punya nyawa selusin. Mereka bawa kendaraanya pada kenceng-kenceng banget mentang-mentang aspalnya mulus. Mau jalanannya basah karena hujan atau kering kejemur matahari, mereka tetep enggan mengurangi kecepatan. Belom lagi banyaknya mobil truk, kontener dan pertamina yang ukurannya gede-gede dan seringkali lalu lalang di sepanjang jalan menuju Taman Nasional Baluran. Karena jalurnya yang cuma lurus aja sampai puluhan kilometer, bikin mereka bawa mobil dengan kecepatan gila. Pernah satu dua kali kita sampai harus minggir karena mobil kontener dari arah berlawanan mencoba untuk nyalip mobil di depannya dan memakan jalur kita. Alhasil kita harus ngalah karena mustahil bisa bikin mereka kembali ke jalurnya mengingat ukuran kendaraan kita yang super mini.
Source : Google
Info aja sih kalau kalian mau wisata ke GWD, Bangsring, Baluran, Waduk Bajulmati, atau manapun yang msh satu arah harap berhati-hati karena disepanjang jalan bakal kalian temuin pabrik batubara dan kendaraan proyek yang keluar masuk. Kalau di Jakarta atau Tangerang biasanya mobil gede tuh bawanya santai dan terkesan pelan, di Banyuwangi kagak ada yang begitu, supirnya pada ganas-ganas banget bawa mobilnya. Gue berasa lagi nonton adegan Fast & Furious versi Jawa Timur.
Sekali lagi gue informasikan sama kalian, mau pergi kemanapun dan menggunakan kendaraan apapun, tetap utamakan keselamatan. Karena kalian jauh dari rumah dan keluarga, tentunya harus bisa jaga diri supaya mereka enggak merasa khawatir.
Oke, cukup sampai disini curhatan gue tentang perjalanan ke Banyuwangi, untuk cerita lainnya seputar Banyuwangi akan gue buat terpisah supaya kalian enggak bosen.
Ciao.











